Senin, 30 Mei 2011

KOMUNIKASI DAN ETIKA DALAM PENGKAJIAN KEBUTUHAN OKSIGEN

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Komunikasi
1.      Komunikasi umum
Komunikasi adalah pertukaran informasi, pikiran, ide dan perasaan diantara dua individu atau lebih. Menurut  Potter dan Perry (1993), komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan dan pertumbuhan personal.
Ada dua cara dalam berkomunikasi yaitu:
a.       Komunikasi verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata yang diungkapkan atau ditulis. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi verbal adalah:
(1)   Kesederhanaan kalimat yang digunakan.
(2)   Kejelasan kalimat.
(3)   Tepat waktu dan relevan.
b.      Komunikasi nonverbal
Komunikasi nonverbal sering diartikan sebagai bahasa tubuh yang menyangkut ekspresi wajah, gerakan tubuh dan sikap tubuh. Komunikasi nonverbal lebih banyak menunjukan apa yang dirasakan daripada apa yang diungkapkan.

Hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi nonverbal adalah:
(1)   Sikap tubuh dan cara berjalan.
(2)   Ekspresi wajah. 
(3)   Gerakan tangan.
2.      Komunikasi terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, berujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Purwanto, 1994). Sedangkan menurut Stuart & Sundeen (1995) komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain. Komunikasi terapeutik juga dapat dipersepsikan sebagai proses interksi antara klien dan perawat yang membantu klien mengatasi stres sementara untuk hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi diri. (Kozier et.al, 2000).

B.     Prinsip Komunikasi
Tujuan komunikasi terapeutik akan tercapai apabila perawat dalam helping relationship memiliki prinsip-prinsip atau karakteristik dalam menerapkan komunikasi terapeutik yang meliputi:
1.      Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.
2.      Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling menghargai.
3.      Perawat harus memahami dan menghayati nilai yang dianut pasien.
4.      Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.
5.      Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk merubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
6.      Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah keberhasilan maupun frustasi.
7.      Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.
8.      Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.
9.      Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
10.  Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan meyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik, mental, spiritual dan gaya hidup.
11.  Disarankan untuk mengekspresikan perasaan yang dianggap mengganggu.
12.  Alturisme, mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
13.  Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.
14.  Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap dirinya atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Dengan prinsip-prinsip tersebut diatas, diharapkan perawat akan mampu menggunakan dirinya sendiri secara terpeutik (therapeutic use of self). Selanjutnya upaya perawat untuk meningkatkan kemampuan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang dinamika komunikasi, penghayatan terhadap kelebihan dan kekurangan diri dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain sangat diperlukan dalam therapeutic use of self. Menggunakan diri secara terapeutik memerlukan integrasi dari ketiga kemampuan tersebut.

C.    Teknik Komunikasi Terapeutik
Teknik komunikasi terdiri dari:
1.      Mendengarkan (Listening)
Merupakan dasar dalam komunikasi yang akan mengetahui perasaan klien. Teknik mendengarkan dengan cara memberi kesempatan klien untuk bicara banyak dan perawat sebagai pendengar aktif.
2.      Pertanyaan terbuka (Broad Opening)
Memberikan inisiatif pada klien, mendorong klien untuk menyeleksi topik yang akan dibicarakan. Kegiatan ini bernilai terapeutik apabila klien menunjukan penerimaan dan nilai dari inisiatif klien dan menjadi non terapeutik apabila perawat mendominasi interaksi dan menolak respon klien.
3.      Mengulang (Restating)
Teknik yang dilaksanakan dengan cara mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien, yang berguna untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat untuk mengikuti pembicaraan.
4.      Penerimaan (Acceptance)
Penerimaan adalah mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan bukan berarti persetujuan. Menunjukan penerimaan berarti kesediaan mendengar tanpa menunjukan keraguan atau ketidak setujuan.


5.      Klarifikasi
Teknik yang digunakan apabila perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar atau klien malu mengemukakan informasi dan perawat mencoba memahami situasi yang digambarkan klien.
6.      Refleksi
Refleksi ini dapat berupa refleksi isi dengan cara memvalidasikan apa yang didengar, refleksi perasaan dengan cara memberi respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan agar klien mengetahui dan menerima perasaanya.
7.      Asertif
Asertif adalah kemampuan dengan cara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain. Tahap-tahap menjadi lebih asertif antara lain menggunakan kata “tidak” sesuai dengan kebutuhan, mengkomunikasikan maksud dengan jelas, mengembangkan kemampuan mendengar, pengungkapan komunikasi disertai dengan bahasa tubuh yang tepat, meningkatkan kepercayaan diri dan gambaran diri dan menerima kritik dengan ramah.
8.      Memfokuskan
Memilih topik yang penting atau yang telah dipilih dengan menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yang lebih spesifik, lebih jelas dan berfokus pada realitas.
9.      Membagi persepsi
Merupakan teknik komunikasi dengan cara meminta pendapat klien tentang hal-hal yang dirasakan dan dipikirkan.



10.  Identifikasi tema
Merupakan teknik komunikasi dengan cara mencari latar belakang masalah klien yang muncul dan berguna untuk meningkatkan pengertian dan eksplorasi masalah yang penting.
11.  Diam
Dilakukan dengan tujuan untuk mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon. Diam tidak dilakukan dalam waktu yang lama. Diam juga dapat diartikan sebagai mengerti atau marah.
12.  Informing
Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut.  Beberapa keuntungan dari menawarkan informasi adalah akan memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan dan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan.
13.  Humor
Humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal dikarenakan tertawa mengurangi stres, ketegangan dan rasa sakit akibat stres, serta meningkatkan keberhasilan asuhan keperawatan.
14.  Saran
Teknik yang bertujuan memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah. Teknik ini tidak tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada fase awal hubungan.





D.    Komunikasi Terapeutik pada Berbagai Tingkat Perkembangan Usia
Faktor kematangan sangat mempengaruhi kemampuan individu dalam berkomunikasi. Kematangan ini didukung oleh beberapa hal seperti, kesempurnaan indera, kesempurnaan dan kematangan otak serta kematangan psikologis.
1.      Komunikasi pada bayi
Perkembangan indera yang dialami:
a.       Penglihatan : Penglihatan masih kabur dan sudah memiliki kemampuan merespon cahaya.
(1)   Usia 3 bulan : Kemampuan koordinasi mata meningkat dan mampu melihat objek dengan jelas dalam jarak relatif jauh.
(2)   Usia 4 bulan ; Bayi mampu mengenali objek dan mengikuti gerakannya.
(3)   Usia 6 bulan : Bayi sudah mampu mengidentifikasi warna.
b.      Pendengaran :
(1)   Hari ke 3 –7 : Bayi baru bisa mendengar , dilihat dari refleks kedip. Selanjutnya dapat membedakan suara ibunya dengan suara orang lain.
(2)   Usia 9 : Bayi sudah dapat dapat membedakan kata-kata dan merespon perintah sederhana.
c.       Perabaaan : Kulit bayi yang sensitif sangat peka untuk merasakan sentuhan.
d.      Wicara :
(1)   Prespeech forms, yaitu menangis dan merengek.
(2)   Tangisan merupakan bentuk komunikasi yang digunakan untuk menunjukan rasa lapar, haus, tidak nyaman, sakit, dan lain-lain.
(3)   Bayi belajar menangis merupakan cara yang effektif untuk menarik perhatian orang sekitarnya.
(4)   Komunikasi pada bayi dilakukan dengan menggunakan suara, sentuhan, belaian dan ciuman.
e.       Tujuan komunikasi :
(1)   Memberi rasa aman kepada bayi.
(2)   Memenuhi kebutuhan bayi akan kasih sayang.
(3)   Melatih bayi mengembangkan bicara, mendengar, dan menerima rangsangan.
2.      Komunikasi pada usia prasekolah
a.       Pada tingkatan ini panca indera telah berkembang sempurna tetapi perbendaharan belum lengkap. Komunikasi pada tahap ini bersifat egosentris, anak belum bisa berpikir abstrak. Mereka memandang sesuatu hanya berfokus pada dirinya sendiri, sehingga komunikasi difokuskan pada dirinya.
b.      Tujuan komunikasi :
(1)   Melatih keterampilan penggunaan panca indra.
(2)   Melatih keterampilan kognitif, psikomotor dan afektif.
(3)   Sebagai bentuk pembelajaran dan permainan dalam melakukan hubungan dengan orang lain.
(4)   Mengembangkan konsep diri.
3.      Komunikasi pada usia sekolah
a.       Perkembangan yang dialami
Pada usia ini anak perkembangan komunikasi dimulai dengan kemampuan anak mencetak, menggambar, membuat huruf atau tulisan yang besar dan apa yang dilaksanakan oleh anak mencerminkan pikiran anak dan kemampuan anak membaca disini sudah muncul, pada usia kedelapan anak sudah mampu membaca. Komunikasi pada masa sekolah ini dikembangkan dalam bentuk verbal dan nonverbal, sebagai upaya untuk mengembangkan pembelajaran tentang aktivitas mandiri, tanggung jawab, dan konsep abstrak.
b.      Tujuan komunikasi:
(1)   Mengembangkan konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
(2)   Mengembangkan kata, nilai, dan kesusilaan.
(3)   Mengembangkan belajar kelompok.
(4)   Belajar berteman dengan teman sebaya.
4.      Komunikasi pada remaja
Masa remaja merupakan masa transisi dari usia anak ke usia dewasa, pada masa ini, individu secara fluktuatif, berada pada pola pemikiran dan perilaku antara status dewasa dan anak-anak. Pada usia ini sudah memahami nilai dan falsafah. Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia ini adalah berdiskusi atau curah pendapat pada teman sebaya, hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan rasa malu dan jaga kerahasiaan dalam berkomunikasi.
5.      Komunikasi pada dewasa
a.       Perkembangan yang dialami :
(1)   Pada usia ini terjadi puncak kematangan fisik, mental dan sosial.
(2)   Teknik komunikasi yang dikembangkan pada masa dewasa dengan mengembangkan komunikasi sebagai media transfer informasi.
b.      Isi materi komunikasi :
(1)   Pekerjaan dan tugas.
(2)   Kegiataan kerumah tanggaan.
(3)   Kegiatan profesional.
(4)   Kegiatan sosial.

6.      Komunikasi pada lansia
a.       Keterbatasan fungsi organ : Komunikasi pada usia ini menurun karena ada penurunan fungsi berbagai organ diantaranya:
(1)   Gangguan penglihatan yang sering terjadi.
(2)   Gangguan pendengaran yang hanya dapat mendengar suara yang relatif keras dan dengan tempo yang lebih lambat.
b.      Teknik komunikasi dengan lansia
(1)   Menggunakan bahasa yang baik. Kecepatan dan tekanan suara yang tepat menyesuaikan pada topik pembicaraan.
(2)   Hindari untuk mendominasi pembicaraan, biarkan lansia untuk berperan aktif.
(3)   Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkrit.

E.     Pengkajian Kebutuhan Oksigenasi
Tahap pengkajian kebutuhan oksigenasi diantaranya :
1.      Riwayat keperawatan
Pengkajian meliputi ada atau tidaknya riwayat gangguan pernapasan (gangguan hidung dan tenggorokan), seperti epistaksis (kondisi akibat luka atau kecelakaan, penyakit rematik akut, sinusitis akut, hipertensi, gangguan pada sistem peredaran darah, dan kanker), obstruksi nasal (kondisi akibat polip, hipertropi tulang hidung, tumor dan influenza) dan keadaan lain yang menyebabkan gangguan pernafasan. Pada tahap pengkajian keluhan atau gejala, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan infeksi kronis dari hidung, sakit pada daerah sinus, otitis media, keluhan nyeri pada tenggorokan, kenaikan suhu tubuh sekitar 38,50C, sakit kepala, lemas, sakit perut hingga muntah-muntah (pada anak-anak), faring berwarna merah dan adanya edema.
2.      Pola batuk dan produksi sputum
Pengkajian dilakukan dengan cara menilai apakah batuk termasuk batuk kering, keras dan kuat dengan suara mendesing, berat dan berubah-ubah seperti kondisi pasien penyakit kanker. Kaji apakah pasien mengalami sakit pada bagian tenggorokan saat batuk kronis dan produktif serta saat dimana pasien sedang makan, merokok atau saat malam hari. Pengkajian terhadap lingkungan tempat tinggal pasien (berdebu, penuh asap dan adanya penyebab alergi) perlu dilakukan. Pengkajian sputum dilakukan dengan cara memeriksa warna, kejernihan dan bercampur darah atau tidak.
3.      Sakit dada
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui bagian yang sakit, luas, intensitas, faktor penyebab, perubahan nyeri saat ubah posisi serta adanya hubungan rasa sakit saat inspirasi dan ekspirasi.
4.      Pengkajian fisik
a.       Inspeksi :
(1)   Penentuan tipe jalan napas, adanya sekret, perdarahan, bengkak atau obstruksi mekanik.
(2)   Frekuensi pernapasan.
(3)   Sifat pernapasan yaitu torakal, abdominal atau gabungan keduanya. Torakal atau dada adalah mengembang dan mengempisnya rongga toraks saat inspirasi dan ekspirasi. Pernapasan abdominal atau perut adalah seiramanya inspirasi dengan mengembangnya perut dan ekspirasi dengan mengempisnya perut.
(4)   Pengkajian irama pernapasan, dengan menelaah masa inspirasi dan ekspirasi.
(5)   Pengkajian terhadap dalam atau dangkalnya pernapasan.
b.      Palpasi
Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi kelainan, seperti nyeri tekan akibat luka, peradangan setempat, metastasis tumor ganas, pleuritis atau pembengkakan dan benjolan pada dada.
c.       Perkusi
Bertujuan untuk menilai normal atau tidaknya suara perkusi paru. Suara perkusi normal adalah sonor bunyinya seperti kata “dug-dug”. Suara perkusi lain yang dianggap tidak normal adalah redup seperti pada infiltrat, pekak terdengar seperti saat memperkusi paha, hipersonor bila udara lebih padat dan timpani bunyinya seperti ucapan “dang-dang-dang”.
d.      Auskultasi
Bertujuan untuk menilai adanya suara napas, diantaranya suara napas dasar dan tambahan. Suara napas dasar adalah suara napas pada orang dengan paru sehat. Suara napas dasar yaitu suara vesikuler dan suara bronkhial. Suara napas tambahan adalah suara yang terdengar pada dinding toraks berasal dari kelainan dalam paru. Suara tambahan yaitu mengi (wheezing), suara ronkhi basah dan suara krepitasi.
5.      Pemerisaan laboratorium
Dilakukan pemeriksaan Hb dan leukosit secara rutin. Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat kuman dengan cara mikroskopis. Uji resitensi dapat dilakukan secara kultur, untuk melihat sel tumor dengan pemeriksaan sitologi.
6.      Pemeriksaan diagnostik
a.       Rontgen dada
b.      Fluoroskopi
c.       Bronkografi
d.      Angiografi
e.       Endoskopi
f.       Radio isotop
g.      Mediastinoskopi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar